TAKDIR CINTA DILARA ( CALON SUAMIKU MENINGGAL SEBELUM AKAD )

Kelopak mataku yang terasa berat perlahan terbuka di saat  mendengar bunyi nada alarm yang tak asing lagi menyusup di telinga. Aku mengedipkan mata berkali-kali ketika mendapati wajah tampan Mas Rayyanza  tepat berada di hadapanku. Dalam keremangan lampu tidur , aku pun tersenyum penuh haru. Akhirnya kami telah resmi menikah. Itu artinya, kejadian kecelakaan yang menimpa kekasih benar – benar hanyalah mimpi buruk. Terimakasih, ya , allah …..

Aku pun mengikis jarak kepada Mas Rayyanza dan langsung memeluk tubuhnya erat. sungguh, aku tak sanggup kehilangan lelaki tercinta dengan uratan ketiga tentunya setelah papa dan kak Abian. Aku tak ingin mimpi buruk itu menjadi nyata. Aku tak sanggup kehilangannya.
“Sudah bangun?” Suara serak khas bangun tiduru membuatku semakin menyurukkan kepala di dada bidangnya. Dia pun membalas dekapanku dan ngusap – ngusap punggungku.
“Jangan pernah tinggalkan aku, Mas. Aku sangat – sangat mencintaimu,” bisikku dengan  mata yang berkaca – kaca.
“Aku tidak akan pernah meninggalkan mu, Dilara.”
” Janji? “
” Janji! Hanya mau yang memisahkan kita .”
Mendengar kalimat itu aku segera mengangkat wajah dan menatap kedua matanya yang masih terpejam. Tampaknya suamiku ini masih sangat mengantuk. Detik waktu terus bergulir, aku tak bosan – bosan menatap wajahnya. Dalam hati terkagum – kagum dengan pesonanya yang tak pudar meski dalam kondisi  baru bangun tidur .
Kuberanikan diri untuk mengecup bibir yang sedikit terbuka itu untuk membuktikan bahwa ini adalah nyata. Lelaki berhidung mancung di hadapan langsung membuka mata dan menatapku tak berkedip.
Untuk sekali lagi, aku memberanikan diri memulai apa yang belum pernah aku lakukan selama hidup dengan siapa pun. Bisa dikatakan bahwa perlakuan spesial ini memang kuhadiahkan kepada suami tercinta. Ekslusif kupersembahkan hanya untuk Mas Rayyanza.
Seolah tak ingin menyia-nyiakan perlakuan manisku, Mas Rayyanza membalasnya dengan penuh perasaan. Napas kami saling bertemu hingga beberapa saat lamanya. Kedua mataku yang tanpa sadar terpejam perlahan membuka. Deru napasnya yang menyapu wajah membuatku tersipu malu. Kurasakan kehangatan menembus kisi-kisi hati ini.
“Terima kasih, Dilara,” ucapnya lirih membuat wajahku semakin memanas.
Aku mengalihkan tatapan, jengah menatap lama-lama senyumnya yang terlampau memesona. Hingga ketika mendengar suara adzan Subuh di luar sana yang menyapa telinga, refleks aku menepuk lengannya. Berniat mengajak dia untuk menunaikan salat Subuh berjamah. Namun, tak disangka dia malah mendesis lirih. Aku mengernyit heran. Apa aku telah menyakitinya?
Di saat menyadari ada noda darah yang telah kering menembus lengan kaus putihnya yang tipis, seketika jantungku terlonjak hingga mataku membelalak sempurna. Kesadaranku yang sempat berkelana seakan kembali pada tempatnya.


Aku terduduk dalam posisi jantung berdebar-debar. Amarah dan rasa malu meletup-letup dalam dadaku. Resepsi pernikahan yang dihadiri mantan-mantan pacarnya yang sexy, pesan berisi foto yang tak pantas, dan tragedi gigitanku pada lengannya tadi malam berputar-putar tanpa henti di memori, serupa tayangan bioskop yang terpampang nyata. Menyadari lelaki yang baru saja kukagumi bukanlah Mas Rayyanza, semakin membuat harga diriku hancur lebur tak bersisa. Bisa-bisanya kamu, Ra! Astagfirullah!
Rasa-rasanya aku ingin melompat saja di gedung hotel berlantai dua puluh enam ini saking malunya. Sesaat kemudian aku menggeleng cepat, menepis pikiran konyol itu.
“Dilara ….” Dia yang telah beralih duduk ingin meraih tanganku, tapi kutepis begitu saja.
Dengan napas tersengal-sengal aku menggigit bibir bawah kuat-kuat. Aku benar-benar frustrasi, tak tahu harus berbuat apa. Entah pikiran apa yang bermain-main di ceruk memorinya saat ini. Aku benar-benar malu. Aku kalah telak. Aku merasa telah bertindak b*doh di hadapannya.
“Coba tenangkan diri Dilara. Tarik napas dalam-dalam, embuskan perlahan–“
“Diam!”
“Oke, baiklah. Aku akan merapatkan mulut.”
Kedua tangannya yang bersedekap dengan posisi tubuh bersandar di sandaran tempat tidur membuatku menatapnya kesal.
Apa dia sama sekali tidak merasa bersalah atas kejadian ini?
Bukankah sudah pasti ini ulahnya?
Siapa lagi yang memindahkan tubuhku dari sofa ke ranjang kalau bukan dirinya?
“Teganya kamu!” desisku kemudian.
“Tega kenapa? Apa kesalahanku, Cinta?”
“Katakan! Apa yang telah kamu lakukan padaku?” tudingku penuh kekalutan. Aku menarik selimut untuk menutupi sebagian dada yang terbuka.
“Dilara–“
“Sudah kukatakan, jangan memanggilku dengan sebutan itu!”
“Baiklah, Cinta. Apa yang membuatmu marah? Hem?”
“Masih pura-pura tak paham?” Aku mendelik tajam.
“Aku sungguh tak mengerti. Apa ini masalah c*uman tadi? Apa kamu menyesali? Atau malah … kurang puas? Mari kita ulangi!” Dia mengedipkan sebelah mata.
Astagfirullah ….


Lelaki ini benar-benar berhasil mengikis kesabaranku.
“Kenapa aku bisa berpindah tidur di sini?” Aku berujar dingin dengan menatapnya tajam.
“Apa kamu tak ingat? Atau pura-pura lupa?”
Dia malah membalik tanya. Dadaku semakin disesaki oleh api amarah dan penyesalan. Kenapa aku tetap saja menyetujui menikah dengan lelaki playboy ini setelah mengetahui kebejatannya?
“Baiklah, Dilara. Aku akan ceritakan kronologi sebenarnya kenapa kamu bisa tidur di sini. Aku harap kamu tak marah-marah lagi.”
Dia menjeda bicara dengan menarik napas. Meski dongkol, aku tetap berusaha mendengar penjelasannya.
“Tadi malam hujan deras. Petir menyambar-nyambar di langit sana. Kamu pindah sendiri menyusulku sambil merengek kedinginan minta dikeloni. Sebagai suami tentu aku tak bisa mengabaikan permintaan istri. Dosa besar bukan, jika seorang suami mengabaikan istri yang butuh kehangatan?”
Aku tercengang mendengar ucapannya yang enteng dan tak masuk akal itu. Perut ini rasanya seperti diaduk-aduk mendengar bualan ceritanya.
“Dan mengenai ciuman itu–“
“Lupakan! Kuanggap hal itu tidak pernah terjadi. Aku berharap kamu juga tak lagi mengungit-ngungkit kejadian itu.”
“Dasar wanita kej*m!”
“Apa kamu bilang?”
“Bagaimana mungkin aku melupakan ciuman itu? Itu tidak adil bagiku, Dilara. Kamu telah menggigit lenganku dengan sad*s, menuduhku berzina, dan yang terakhir kamu sendiri yang telah mencuri ciuman pertamaku. Eh, dengan seenaknya kamu memutarbalikkan fakta dan malah memintaku melupakannya. Enak saja! Kalau kamu telah mengembalikan ciuman itu, baru aku akan mempertimbangkan untuk melupakannya.”
“Mengembalikan? Maksudnya?”
Dia pun dengan tanpa sungkan mendekatkan wajahnya ke arahku, membuatku menuruni ranjang dan menjauh darinya.
“Jangan mimpi!”
Aku menyalakan lampu yang terang, memang sengaja untuk menggodanya. Sudah kepalang malu, nyemplung aja sekalian. Lalu, aku berjalan ala model catwalk dan mendekat ke arahnya sambil mengibaskan rambut ala-ala iklan shampo.
“Apa begini cara mereka menggodamu, Tuan Dokter Rayyandra?” tanyaku dengan sedikit mengangkat dress selutut ini dan menyadarkan lutut pada tepi ranjang.
Melihat tatapannya yang penuh kabut gairah, membuatku tersenyum miring.
“Jangan pikir aku wanita lemah, Rayyandra. Meski aku istrimu, tapi aku tak akan sudi disamakan dengan mantan-mantan pacarmu yang gampangan itu. Anggap saja kejadian tak sengaja tadi untuk menghapus dosa-dosamu di masa lalu. Jika kau berani mengulanginya dengan perempuan di luar sana, akan kupastikan hidupmu tidak akan tenang. Aku tidak ingin pengorbananku berujung sia-sia. Aku tidak ingin mengecewakan mama mertua yang sudah kuanggap sebagai orang tua kandung sendiri.”
Setelah meluapkan kata-kata yang mengganjal di kepala, aku membalik badan begitu saja. Aku tak ingin melewatkan waktu subuh dengan kesia-siaan. Namun, lagi-lagi dia menghentikan gerakanku dengan suaranya.
“Ada dar*h,” gumamnya membuatku memutar badan sambil menggeleng pelan.
“Apakah Pak Dokter yang tampan ini mengharapkan saya mengobati luka di tangannya?” tanyaku sarkastik.
“Bukan di tanganku. Maksudku … di sprei dan gaunmu.”
“Apa?” Aku membelalak mata. Kecemasan tiba-tiba datang menghantam jiwa.
Aku pun menatap tubuh bagian belakang dan beralih melihat sprei untuk memastikan ucapannya.
Sejurus kemudian ….
“Apa yang telah kamu lakukan, Rayyandra!” teriakku histeris melihat noda darah yang terpampang nyata pada bagian gaun tidurku dan bagian sprei.
Apa itu artinya dia telah merenggut paksa kesucianku?
Aku benar tak habis pikir dengan jalan takdir yang kulalui. Jiwa yang terguncang membuatku luruh dan terduduk ke lantai. Dengan derai air mata, aku meraung penuh penyesalan.
“Tega kamu!” desisku sesaat dia berjalan menghampiri dan duduk bersimpuh di depanku.
Aku benar-benar benc*, marah, sekaligus hancur melihat raut wajahnya yang tenang seakan tak merasa berdosa itu.
Aku seperti sehelai daun kering yang tak berarti apa-apa baginya.
“Apakah kamu benar-benar menganggapku wanita murahan dan hanya untuk pelampiasan saja, Rayyandra?”
Bersambung ….